Peretas Pakai AI Bobol Bank Korea Selatan, Data 68 Ribu Nasabah Diduga Bocor
Serangan siber berbasis AI mengguncang perbankan Korea Selatan. Laporan CrowdStrike menyebut pelaku seorang pria 26 tahun di China yang memakai alat AI ARTEX, sementara regulator menemukan jejak IP dari banyak negara dan korban diduga mencapai 68 ribu nasabah.

Serangkaian serangan siber menghantam sejumlah bank besar di Korea Selatan pada akhir September hingga awal Oktober 2026. Pemerintah Korea Selatan kini meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan siber nasional setelah data pribadi puluhan ribu nasabah diduga bocor. Yang membuat kasus ini menonjol: penyidik menemukan jejak penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam operasi peretasan itu.
Apa yang terjadi
Menurut Deutsche Welle (DW) yang dikutip detikNews, setidaknya tujuh lembaga keuangan besar Korea Selatan mengalami kebocoran data pekan lalu. Sementara laporan CNA menyebut sedikitnya sembilan bank Korea Selatan telah mengungkap atau dilaporkan media lokal menjadi sasaran serangan sejak akhir September.
Media Korea Selatan melaporkan hingga 68.000 nasabah terdampak. Bank yang disebut paling terpukul antara lain Shinhan Bank, KB Kookmin Bank, dan Hana Bank. CNA mencatat Shinhan Bank menyatakan informasi pribadi sekitar 25.000 nasabahnya tersusupi, sedangkan KB Kookmin Bank menyebut data 119 nasabahnya bocor.

Data yang diduga berhasil diakses mencakup nama, nomor telepon, pendapatan tahunan, batas pinjaman, informasi produk pinjaman, hingga sebagian kecil nomor identitas nasional. Temuan sementara menunjukkan pelaku memanfaatkan kelemahan sistem autentikasi pada portal agen pinjaman eksternal, aplikasi internal karyawan, dan sistem pendukung penjualan.
Peran AI dan alat ARTEX
Laporan perusahaan keamanan siber asal Amerika Serikat, CrowdStrike, yang diterbitkan Rabu (7/10), menyebut pelaku diduga seorang pria berusia 26 tahun yang tinggal di Provinsi Guangdong, China. Ia disebut memakai perangkat AI buatan China bernama ARTEX serta Claude Code milik Anthropic.
ARTEX adalah alat pengujian penetrasi otomatis (autonomous penetration-testing) berbasis sumber terbuka yang dipublikasikan di GitHub tahun ini oleh seorang insinyur keamanan siber China dengan nama pengguna “Autumn”. ARTEX bukan model bahasa besar mandiri, melainkan terhubung ke LLM eksternal seperti ChatGPT, Claude, dan DeepSeek.
CrowdStrike menyatakan pelaku kemungkinan berbahasa Mandarin dan bermotif finansial, dengan tingkat keyakinan sedang berdasarkan penggunaan ARTEX serta perintah berbahasa Mandarin yang ditemukan. Sejumlah laporan media, termasuk Kontan.co.id, menyebut pengembang ARTEX kemudian menutup kode sumber alat tersebut setelah kasus ini mencuat.

Regulator belum menyimpulkan asal serangan
Kesimpulan CrowdStrike tidak serta-merta disepakati otoritas Korea Selatan. Financial Supervisory Service (FSS) menemukan 28 alamat IP yang terkait kasus ini justru berasal dari Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan sepuluh negara lainnya.
Analis perusahaan riset aset digital Brave New Coin, Aditya Das, menilai penggunaan perangkat lunak buatan China tidak otomatis membuktikan keterlibatan peretas dari negara itu. Menurutnya, penggunaan banyak alamat IP bisa jadi upaya pelaku menyamarkan jejak.
Dampak yang lebih luas
Perdana Menteri Han Seong-sook pada Selasa (6/10) mendesak langkah cepat untuk mencegah kebocoran lebih lanjut. Ia memperingatkan teknologi AI dapat memperkuat efektivitas serangan phishing dan berpotensi menyebar dari sektor keuangan ke industri, lembaga pemerintah, hingga layanan publik.
Kekhawatiran itu tidak hanya di sektor keuangan. Dua gereja terbesar di Korea Selatan serta Korea Electric Power Corp. juga mengonfirmasi sistem daring mereka sempat diakses secara ilegal, meski belum dipastikan dilakukan pelaku yang sama.
Profesor dari Sogang University, Hyobin Lee, menilai dampak insiden ini melampaui kebocoran data pribadi. Informasi yang dicuri, katanya, bisa dipakai untuk penipuan finansial, pencurian identitas, dan phishing yang lebih terarah. Ia mengingatkan data bocor dapat digabungkan dengan basis data lain yang pernah diretas sehingga menciptakan risiko jangka panjang.

Menurut Lee, sebelum era AI, peretas butuh keahlian teknis tinggi dan waktu panjang untuk menemukan celah keamanan hingga membuat malware. Kini AI generatif mampu membantu menulis kode, menganalisis kerentanan perangkat lunak, mengolah data dalam jumlah besar, dan mengotomatisasi sebagian proses serangan. “Hambatan teknis untuk melakukan kejahatan siber menjadi semakin rendah, sementara skala dan kecepatan serangan meningkat tajam,” ujarnya.
Polisi Korea Selatan telah membuka penyelidikan, dan Presiden Lee Jae Myung menyerukan langkah penanganan tegas. Kasus ini menambah daftar panjang kekhawatiran global soal agen AI—Australia sebelumnya menyatakan agen otonom OpenAI membobol portal statistik kesehatan pemerintah pada Juni, salah satu kasus pertama agen AI meretas sistem pemerintah yang diketahui publik.





