Senat AS Gagalkan CLARITY Act, Bitcoin Anjlok ke Bawah 76.000 Dolar
Voting prosedural CLARITY Act gagal di Senat AS dengan hasil 49-50. Bitcoin langsung merosot ke bawah 76.000 dolar AS, XRP jatuh 10 persen, dan saham kripto seperti Coinbase ikut terpukul sehari sebelum keputusan suku bunga The Fed.

Senat Amerika Serikat gagal memajukan Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act) dalam pemungutan suara prosedural, Selasa (15/9/2026) waktu setempat. Kegagalan itu langsung mengguncang pasar kripto: Bitcoin merosot ke bawah 76.000 dolar AS dan mayoritas token utama ikut tertekan, tepat sehari menjelang keputusan suku bunga The Fed.
Menurut laporan MetroTVNews yang mengutip Investing.com, harga Bitcoin turun 3,8 persen menjadi 75.748,2 dolar AS. Kompas.com mencatat Bitcoin berada di kisaran 75.513 dolar AS pada 16 September, turun 3,07 persen dalam 24 jam dan 4,10 persen dalam sepekan.

Voting 49-50, Ambang 60 Suara Tak Tercapai
RUU yang juga dikenal sebagai Cryptocurrency Legal Clarity Act itu hanya memperoleh 49 suara berbanding 50 penolakan. Aturan Senat AS mensyaratkan minimal 60 suara agar sebuah RUU bisa lanjut ke tahap pembahasan berikutnya, sehingga prosesnya kini terhenti.
CLARITY Act dirancang untuk membentuk kerangka regulasi federal bagi aset digital sekaligus memperjelas pembagian kewenangan antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC). RUU ini sudah disetujui Komite Perbankan Senat pada Mei 2026, tetapi pembahasannya tersendat karena dukungan tak pernah cukup.
Senator Cynthia Lummis dari Partai Republik, yang memimpin upaya menggalang dukungan, menuding koleganya dari Partai Demokrat tidak serius. “Selama lebih dari setahun, mereka mengajukan tuntutan dan begitu kami memenuhinya, mereka mengajukan tuntutan baru,” kata Lummis seperti dikutip MetroTVNews. Perdebatan utama terletak pada perlakuan imbal hasil stablecoin dan pembagian pengawasan aset digital antara SEC dan CFTC.

Bitcoin Turun, Altcoin Lebih Dalam
Data Ajaib menunjukkan Bitcoin terkoreksi 2,75 persen dalam 24 jam ke level 75.800 dolar AS, setelah sempat menyentuh 79.580 dolar AS pada 14 September. Dominasi pasar Bitcoin berada di 59,50 persen, sementara total kapitalisasi pasar aset kripto turut terkoreksi 3,30 persen menjadi 2,55 triliun dolar AS.
Bloomberg Technoz melaporkan Bitcoin relatif stabil di sekitar 75.900 dolar AS pada awal perdagangan New York, seusai sempat ambruk hingga 5 persen di sesi sebelumnya. Ethereum melemah ke sekitar 2.400 dolar AS atau turun 4,58 persen, sedangkan XRP memimpin penurunan dengan anjlok hampir 10 persen ke 1,30 dolar AS, menurut CoinDesk.

Saham Kripto Jatuh Lebih Parah daripada Token
Tekanan di pasar saham lebih dalam daripada di pasar token. Coinbase turun hampir 9 persen ke 174,42 dolar AS dan Circle anjlok lebih dari 9 persen ke 88,26 dolar AS. Galaxy Digital melemah 8 persen, Gemini 7 persen, sementara Bullish dan Riot Platforms masing-masing kehilangan 5 persen. Robinhood, MARA Holdings, CleanSpark, IREN, dan Core Scientific turun di rentang 3 hingga 4 persen, dilansir dari CoinDesk.
Semua Mata Kini Beralih ke The Fed
Fokus pasar berikutnya adalah keputusan Federal Open Market Committee (FOMC). INDODAX melaporkan pengumuman suku bunga akan jatuh pada Rabu (16/9/2026) waktu AS atau Kamis dini hari pukul 01.00 WIB. Berdasarkan CME FedWatch, pasar nyaris sepenuhnya memperhitungkan kenaikan 25 basis poin yang akan membawa target Federal Funds Rate ke 3,75-4,00 persen.
Ajaib mencatat probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin melonjak ke 86,5 persen usai data inflasi Agustus, setelah The Fed menahan suku bunga lima kali berturut-turut sepanjang tahun ini. Bloomberg Technoz menyebut kekhawatiran inflasi dan lonjakan imbal hasil obligasi AS diperkirakan mendorong Ketua The Fed Kevin Warsh menaikkan suku bunga, yang bisa menekan permintaan aset berisiko seperti Bitcoin.
Apa Artinya Buat Investor Kripto
Bloomberg mencatat investor sebelumnya berharap CLARITY Act menjadi jalan keluar pasar kripto dari kelesuan yang berlangsung sekitar 11 bulan. Harapan itu kini tertunda, dan ketidakpastian regulasi kembali menjadi faktor yang membebani sentimen.
Bagi investor di Indonesia, kombinasi kegagalan RUU di Senat dan kenaikan suku bunga The Fed berarti volatilitas jangka pendek masih tinggi. Kenaikan suku bunga cenderung menarik modal keluar dari aset berisiko, termasuk kripto, ke instrumen yang memberi imbal hasil lebih aman seperti obligasi pemerintah AS. Angka apa pun yang muncul dalam sepekan ke depan sebaiknya dibaca sebagai reaksi pasar terhadap dua peristiwa ini, bukan sebagai arah tren jangka panjang.





