Bitcoin Tembus 81.000 Dollar AS Usai Short Squeeze, ETF Kembali Banjir Dana
Harga Bitcoin melonjak di atas 81.000 dollar AS pada 18-19 September 2026, level tertinggi sejak 7 September. Reli dipicu short squeeze 183 juta dollar AS, arus masuk ETF, dan sikap pasar yang mengabaikan kenaikan suku bunga The Fed serta Bank of Japan.

Harga Bitcoin kembali menembus 81.000 dollar AS pada Jumat-Sabtu (18-19/9/2026), level pertama di atas 80.000 dollar AS sejak 7 September. Reli ini terjadi hanya dua hari setelah mata uang kripto terbesar dunia itu menyentuh titik terendah di sekitar 75.500 dollar AS menyusul kegagalan legislasi kripto di Senat Amerika Serikat.
Dilansir dari Investing.com, Bitcoin naik hingga 81.702 dollar AS pada 18 September, setelah sehari sebelumnya diperdagangkan di kisaran 76.400 dollar AS. Pada Sabtu pukul 09.40, Bitcoin berada di 81.331,3 dollar AS dengan kenaikan 5,65 persen dalam sehari. Ethereum ikut menguat 6,37 persen ke 2.619,81 dollar AS.
Dipicu Likuidasi Posisi Short
Pendorong terbesar reli kali ini adalah short squeeze. Sekitar 192 juta dollar AS posisi kripto berleverage dilikuidasi dalam satu jam pada Jumat, dan lebih dari 183 juta dollar AS di antaranya adalah posisi short alias taruhan pada harga turun. Posisi short Bitcoin menyumbang sekitar 119 juta dollar AS dari angka tersebut.
Trader yang mempertaruhkan harga jatuh terpaksa menutup posisi saat pasar bergerak naik, dan penutupan itu justru mendorong harga makin tinggi. Pola serupa terlihat pada saham kripto: Investing.com mencatat saham Coinbase melonjak 11,2 persen dan Strategy, perusahaan pemegang Bitcoin terbesar korporasi, melesat 12,9 persen pada perdagangan Jumat.

Penambang kripto tidak ketinggalan. Riot Platforms, MARA Holdings, Hut 8, dan Bit Digital masing-masing naik antara 3 persen hingga 10 persen.
The Fed dan BOJ Tetap Menekan
Reli ini terbilang mengejutkan karena muncul di tengah pengetatan kebijakan moneter global. The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan ini, kenaikan pertama sejak 2023. Kompas.com melaporkan Bank of Japan mengikuti dengan kenaikan seperempat poin menjadi 1,25 persen, level tertinggi sejak 1995 atau dalam 31 tahun. Keputusan BOJ diambil dengan suara 7-2, dengan dua anggota dewan menolak.
Menurut laporan Kompas.com, Bitcoin sempat melemah mendekati 75.000-76.000 dollar AS setelah pengumuman itu, tetapi aksi jual besar yang diperkirakan pasar tidak terwujud. Chief Marketing Officer INDODAX Aloysia Dian menyebut kenaikan suku bunga sudah banyak diantisipasi sehingga sebagian dampaknya sudah tercermin di harga sebelum keputusan diumumkan.
Alice Liu, kepala riset CoinMarketCap, menyampaikan hal senada kepada Investing.com. Menurutnya, pasar sudah memperhitungkan langkah The Fed maupun BOJ, sehingga nilai pasar kripto justru naik setelah kedua bank sentral tersebut bergerak.
Faktor kedua adalah permintaan dari produk investasi. ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat sekitar 159 juta dollar AS arus masuk bersih pada 17 September. Aliran dana itu memberi pembeli baru di pasar spot saat tekanan jual mulai mengendur.

Latar Belakang: CLARITY Act Gagal
Lonjakan ini membalik kerugian awal pekan. Pada 16 September, Senat AS gagal memajukan CLARITY Act, rancangan undang-undang yang mengatur pembagian kewenangan regulator atas aset kripto. Versi terbaru RUU itu memuat 126 perubahan substantif hasil pembahasan bipartisan, menurut rilis Senator Cynthia Lummis pada 14 September.
Kompas.com mencatat Bitcoin sempat turun 3,07 persen dalam 24 jam ke kisaran 75.513 dollar AS pada 16 September, sementara Ethereum merosot ke sekitar 2.400 dollar AS. Sentimen itu berbalik dalam dua hari.
Apa Artinya bagi Pembeli?
Pasar berjangka masih melihat ruang kenaikan lanjutan, tapi dengan catatan besar. Platform prediksi Polymarket memberi peluang 84 persen Bitcoin menyentuh 84.000 dollar AS sebelum jatuh ke 55.000 dollar AS, peluang 59 persen untuk menembus 90.000 dollar AS tahun ini, dan hanya 25 persen untuk 100.000 dollar AS. Peluang Bitcoin menyentuh 70.000 dollar AS sebelum akhir tahun masih 48 persen.

Artinya, volatilitas belum berakhir. Proyeksi pejabat The Fed yang dikutip Kompas.com masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir 2026, dan status regulasi kripto di Amerika Serikat belum tuntas. Bagi investor ritel di Indonesia, reli dua hari ini lebih tepat dibaca sebagai pemulihan jangka pendek daripada awal tren naik yang pasti.





