7 Tempat Makan Legendaris di Solo yang Masih Jadi Favorit
Dari soto yang buka sejak 1939 sampai tengkleng di bawah gapura Pasar Klewer, ini 7 tempat makan legendaris di Solo yang masih ramai sampai sekarang — lengkap dengan jam buka dan kisaran harganya.

Solo punya banyak warung yang usianya lebih tua dari republik ini, dan sebagian besar masih memakai resep yang sama seperti generasi pertama. Tujuh tempat di bawah ini muncul berulang di rekomendasi detikFood, detikJateng, dan IDN Times — bukan cuma legendaris, tapi juga masih jadi langganan warga lokal sampai hari ini.

1. Soto Triwindu (sejak 1939)
Warung soto ini pertama kali berjualan pakai pikulan, dibuka Hj. Yososumarto pada 1939, dan sekarang dilanjutkan cucunya. Lokasinya di Jalan Teuku Umar, dekat pasar barang antik Triwindu yang jadi asal namanya. Kuah bening gurih dengan irisan daging sapi lebar, bisa ditambah empal, lidah, paru, babat, otak, perkedel, tempe goreng, dan mendol. Satu porsi soto campur sekitar Rp18.000, jadi Rp23.000 kalau nasinya dipisah. (Sumber: detikFood, detikJateng)
2. Timlo Sastro (sejak 1952)
Kalau mau sarapan berkuah di Solo, timlo jawabannya. Timlo Sastro sudah berjualan sejak 1952 di kawasan persimpangan Pasar Gede, buka pukul 06.00–15.30 dengan harga sekitar Rp25.000 per porsi. Isinya hati, ampela, ayam suwir, telur pindang, dan sosis Solo dari dadar telur berisi daging ayam cincang. Datang lebih awal karena antreannya panjang, terutama akhir pekan. (Sumber: detikFood, detikJateng)

3. Nasi Liwet Wongso Lemu (sejak 1950-an)
Nasi liwet Solo bukan nasi biasa: dimasak dengan santan, disajikan bersama suwiran ayam opor, sayur labu siam pedas-manis, telur pindang, dan siraman areh alias santan kental. Warung ini sudah ada sejak 1950-an dan dikelola Bu Cipto Sukani. Di sepanjang jalan yang sama ada tiga penjaja dengan nama serupa, jadi pastikan yang Anda datangi benar-benar Wongso Lemu. Yang bikin beda: Anda makan sambil ditemani tembang Jawa dari para sinden. Versi kompletnya ditambah ati ampela. (Sumber: detikFood, detikJateng)
4. Gudeg Ceker Margoyudan Bu Kasno
Gudeg Solo tidak semanis gudeg Jogja — rasanya lebih gurih dan kuahnya lebih ringan. Andalan warung di kawasan Margoyudan ini adalah ceker ayam yang dimasak sangat empuk sampai dagingnya lepas dari tulang. Ada juga bubur lemu, bubur santan yang disantap bersama gudeg. Karena banyak pemburu kuliner tengah malam, siapkan waktu khusus kalau mau ke sini. (Sumber: detikFood, detikJateng)
5. Tengkleng Klewer Bu Edi
Tengkleng adalah olahan tulang kambing yang jadi kebanggaan warga Solo, dan salah satu yang paling sering disebut ada di bawah gapura Pasar Klewer. Isinya tulang kambing dengan sisa daging yang menempel, disiram kuah kuning encer yang kaya rempah dan sedikit pedas. (Sumber: detikJateng)
6. Sate Kere Mbak Tug (dan Sate Kere Yu Rebi)
Sate kere lahir dari kreativitas warga Solo yang tidak sanggup beli daging. Sate Kere Mbak Tug sudah berjualan sejak 1950-an di Jalan Arifin No. 63, Kepatihan Kulon, Jebres, memakai iso, babat, dan ginjal yang dibakar lalu disiram bumbu kacang legit — satu porsi 10 tusuk sekitar Rp25.000. Versi lain ada di Sate Kere Yu Rebi yang memakai tempe gembus dibumbui bacem sebelum dibakar, disajikan dengan bumbu kacang kental, irisan bawang merah, dan cabai rawit. (Sumber: detikFood, detikJateng)

7. Warung Selat Mbak Lies
Selat Solo sering disebut “steak Jawa” karena memang perpaduan kuliner Jawa dan Eropa. Satu porsinya berisi potongan daging sapi, telur pindang, buncis, wortel, kentang goreng, dan selada, disiram kuah cokelat manis-gurih dengan sedikit mustar. Di Warung Selat Mbak Lies, hidangan ini jadi menu andalan yang jarang berubah rasanya. (Sumber: detikJateng, IDN Times)
Bonus: Jajanan dan Minuman Legendaris
Bonus: Serabi Notosuman berjualan sejak 1923 di Jalan Mohammad Yamin No. 28, buka pukul 07.00, sekitar Rp3.000 per serabi. Es Dawet Telasih Bu Dermi di Pasar Gede buka sejak 1930 dan pernah disambangi Presiden Jokowi; isinya bubur ketan hitam, bubur sumsum, tape ketan, cendol, dan biji telasih, sekitar Rp10.000. Tambahkan Soto Pak Keman (1969) yang masih pakai kuali tanah liat dan kayu bakar, serta Soto Gading di dekat Alun-alun Kidul. (Sumber: detikFood, IDN Times)
Pertanyaan Umum
Waktu terbaik mengunjungi tempat makan legendaris di Solo? Bagi jadi dua sesi. Pagi sampai siang untuk soto, timlo, serabi, dan nasi liwet. Malam untuk gudeg ceker, tengkleng, dan sate kere. Timlo Sastro misalnya tutup pukul 15.30, sedangkan Es Dawet Telasih Bu Dermi sebaiknya didatangi sebelum sore. (detikFood, detikJateng)
Berapa bujet kuliner sehari di Solo? Kalau memilih tempat-tempat di daftar ini, sekitar Rp100.000–Rp150.000 per orang sudah cukup untuk tiga kali makan. Kisarannya: soto Rp18.000–Rp25.000, timlo Rp25.000, sate kere Rp25.000, dan dawet Rp10.000. Nasi liwet serta gudeg ceker umumnya di bawah Rp30.000. (detikFood, detikJateng)
Mana yang paling mudah dijangkau tanpa kendaraan sendiri? Kawasan Pasar Gede paling praktis. Dalam radius jalan kaki ada Timlo Sastro, Es Dawet Telasih Bu Dermi, Tahok Pak Citro, dan Nasi Liwet Bu Sri yang sudah ada sejak 1978. Soto Triwindu juga tidak jauh dari kawasan itu. (detikJateng, IDN Times)
Apakah semua tempat ini buka setiap hari? Mayoritas buka harian, tapi jamnya tidak seragam. Timlo Sastro dan Serabi Notosuman beroperasi pagi, sementara gudeg ceker dan tengkleng ramai mulai malam. Cek jam bukanya kalau Anda hanya punya satu hari di Solo. (detikFood, detikJateng)
Ada tempat makan legendaris lain yang tidak masuk daftar? Banyak. Soto Kirana (1982), Soto Seger Hj. Fatimah (1998), Nasi Liwet Bu Sri (1978), dan Tahok Pak Citro (1968) semuanya legendaris. Daftar ini dibatasi tujuh supaya tidak membingungkan kalau Anda cuma punya waktu sehari. (IDN Times, detikFood)
Penutup
Kalau waktu Anda terbatas, urutan paling masuk akal: timlo untuk sarapan, soto Triwindu atau nasi liwet untuk makan siang, lalu gudeg ceker atau tengkleng untuk makan malam. Semuanya warung sederhana dengan harga yang ramah kantong, dan justru itu yang bikin rasanya tidak berubah sejak puluhan tahun lalu.





